top of page

Cangkrukan juga memberikan berbagai manfaat. Manfaat itu antara lain kita dapat bertukar pengalaman dengan orang lain, bisa mengenal satu sama lain, membuat kita banyak tertawa ketika bercanda dengan teman dan bisa menghilangkan stress. Tapi di satu sisi, kita juga disarankan agar tidak terlalu sering cangkruk. Kenapa?  Pertama, pekerjaan kita bisa terbengkalai dan tidak selesai, karena terlalu sering cangkruk. Yang kedua, setiap kita cangkruk membuat pengeluaran semakin banyak.

 

Namun baik atau tidaknya aktivitas cangkrukan sebenarnya memang tergantung pada individu masing-masing, jika kandungan diskusi saat cangkrukan itu berisi tentang hal-hal yang bermanfaat dan bahkan mampu memberikan pencerahan bagi permasalahan kita, cangkrukan menjadi hal yang positif.

Cangkrukan adalah salah satu tradisi dari kebudayaan orang Jawa. Pada mulanya, istilah cangkruk digunakan untuk mendefiniskan kegiatan kongkow atau jagongan di depan rumah atau di tepi jalan dengan para tetangga di desa. Saat itu, orang cangkrukan tanpa perlu janjian dulu. Kita duduk dulu ,tunggu siapa yang akan datang. Zaman sekarang, prosedur cangkru’an sudah bergeser dari asalnya. Orang zaman sekarang lebih sering janjian dulu dengan temannya, baru dia cangkruk dengan temannya yang diajak janjian itu tadi.  Kebiasaan cangkrukan sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat kita karena, berkumpul dan berbincang-bincang telah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia, khususnya Surabaya.

 

Arti cangkru’an zaman sekarang, kalau disimpulkan dari penelitian yang dilakukan melalui media Google, adalah kumpul-kumpul bareng, jagongan untuk membahas suatu masalah tertentu. Dalam bahasa sekarang, mungkin hal ini setara dengan sharing atau berbagi cerita, tapi tentunya diarahkan ke hal yang positif.

 

 

Cangkruk, apa itu?

Biasanya, cangkrukan dilakukan di warung. Warung menjual makanan-makanan kecil seperti tahu tek, tahu isi, pisang goreng, sate kerang, sate puyuh, dan lain lainnya. Sebenarnya budaya cangkruk tidak hanya dilakukan di Jawa saja. Di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarmasin, ada suatu tradisi yang mirip dengan cangkrukan yang dinamakan “mawarung”.

 

Dari emperan jalan, kedai-kedai kecil, warung kopi, bahkan hingga restoran mewah kini telah banyak beralih fungsi tidak hanya sebagai tempat makan saja namun juga sebagai tempat berkumpul remaja-remaja. Banyak hal yang dapat di lakukan saat cangkrukan. Mulai dari ngobrol masalah kerjaan/tugas, sampai masalah pribadi, bahkan hanya untuk mencari suasana yang nyaman untuk sharing dengan teman-teman. It is a way of bonding with your friends. Tentunya ditemani dengan kopi hangat dan makanan kecil, terkadang juga asap rokok yang masih fresh.

 

 

bottom of page